13.4.12

Nostalgia Skripsi

Melihat beberapa adek kelas di kampus sedang serius ngerjain skripsi, jadi inget akhir tahun 2009 lalu. Ketika aku, Ratri, Krista dan Lala bareng-bareng berjibaku demi menyelesaikan studi 3,5 tahun dan wisuda 9 Januari 2010. Terhitung 6 bulan sejak penerimaan transkrip semester 6, haru biru pengerjaan tugas akhir itu ada.

Pendaftaran skripsi di kampusku bersamaan dengan entry KRS untuk mahasiswa. Kalo tak salah sekitar bulan September awal. Dilanjut dengan bayar biaya bimbingan, mendaftar di fakultas, memilih dosen pembimbing dan mulai berkutat dengan judul dan permasalahan. Dosen pembimbingku (doping) waktu itu Bu Diva Claretta.

Bu Diva ini adalah salah satu dosen galak di jurusanku. Sebenernya bukan galak, tapi cara bicaranya tegas dan suaranya keras. Pengennya milih Bu Umar yang sabar, tapi beliau kelewat populer sampe terlalu banyak mahasiswa yang terdaftar sebagai bimbingannya. Tak apa, Bu Umar dan Bu Diva juga selalu berkoalisi. Lagipula Bu Umar ini sudah pernah jadi dopingku waktu magang.

Dan Alhamdulillah, meski secara resmi tercatat dopingku Bu Diva, tapi Bu Umar masih perhatian aja. Jadi kalo Bu Diva tak ada di tempat, beliau dengan suka rela menampung keluh kesahku tentang momok bernama skripsi itu. Beliau juga aktif tanya perkembangannya, sudah sampai bab berapa, ada kesulitankah, dan tak lupa support yang tak habis sampe lulus.

Dan mulailah kami berempat mengerjakan skripsi itu, merangkak meraih nilai bagus dan lulus 3,5 tahun. Tentunya tidak tanpa motivasi yang kuat untuk semua itu. Ketika beban kuliah yang seharusnya tuntas 7 semester, tapi kami menyelesaikannya lebih cepat setengah tahun dan dengan nilai aku bilang memuaskan, setidaknya IP masih di atas 3. Dengan varian motivasi dari masing-masing, kami berjibaku (lebai :D).

Skripsiku pake metodologi penelitian kualitatif, tepatnya semiotik. Kenapa? Karena buatku itu lebih mudah, ndak ribet sebar quesioner, ndak ribet itung-itungan. Karena aku tak begitu kuat di hitungan dan lebih suka mengarang. Hahahahahaha...

Aku ingat sekali, kala itu aku masih pake HP Sony Ericsson W380i, modelnya flip. Di HP SE memang yang agak jadul gitu biasanya memang bisa majang note di homescreen-nya. Biasanya aku menuliskan motto hidup di situ, “there’s always a way to go out.” Namun, selama skripsi itu aku menuliskan “WISUDA 9 JANUARI 2010.” Sekedar untuk selalu memotivasi dan mengingatkan bahwa aku punya target besar, biar ndak males-malesan.

Alhamdulillah, man jadda wa jadda, yang berusaha pasti akan berhasil. Dan kami menuai hasil memuaskan setelah kurang lebih 4 bulan lamanya berkutat dengan skripsi. Tanggal 17 Desember 2009, kami berempat bersama puluhan teman lain dinyatakan lulus. Puji syukur J

Sebenarnya, skripsi itu tak terlalu sulit. Hanya butuh niat untuk bisa menyelesaikannya. Yang bikin sulit adalah karena pola pikir kita sendiri. Kadang kita hanya ragu melangkah, padahal sebenarnya kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan dengan skripsi itu. Kadang kita hanya merasa tak mengerti harus apa, merasa tak paham dengan materinya, padahal paling tidak sudah 3 tahun kita menekuni materi serupa.

Ketika mengerjakan pun, kadang kita bingung memikirkan ketika nantinya yang kita bahas akan 
dipertanyakan banyak pihak, terutama ketika ujian. Pertanyaan dari dosen penguji kadang sangat mengganggu pikiran, bikin galau walau hanya memikirkannya. Apalagi kalo dapet cerita dari senior yang bilang dosen ini kalo tanya detail, dosen ini pertanyaannya sering kali mojokin sampe kita ndak bisa jawab, dosen itu sukanya cari-cari celah yang bisa menjatuhkan kita.

Hash! Bukan begitu, sama sekali bukan. Dosen mana yang tak ingin mahasiswanya lulus? Justru mereka begitu agar kita lulus. Sekalipun dosen itu pernah mendendam sama kita (mungkin) dia pasti juga penge kita lulus. Setidaknya dia pengen kita cepet-cepet hengkang dari kampus biar ndak bikin ulah lagi. Hahahahahaha....

Aku masih sangat ingat, ketika hari ujian skripsi tiba, kami berempat berusaha saling menguatkan. Aku lupa dari mana asalnya, waktu itu kami semua mendoktrin diri dengan berpikir bahwa “Ini bukan ujian, ini hanya diskusi atau konsultasi antara mahasiswa dengan dosennya tentang materi skripsi.”

Yupz! Memang begitulah, setidaknya anggap saja begitu. Aku tak munafik, bahwa ketika namaku dipanggil seluruh badan rasanya gemetar, tangan dingin tak karuan, apalagi waktu harus duduk di tengah ruangan yang hanya berisi 3 orang dosen dengan wajah yang bagiku menyeramkan waktu itu. Tapi aku selalu mencoba rileks, dengan tersenyum, dengan berani memandang mata mereka satu per satu. Dan ternyata, mereka ndak serem-serem amat koq, masih serem si amat. Wkwkwkwkwkwk...

Dan ujian itu hanyalah diskusi. Skripsi yang di depan kita, yang juga dipegang oleh para dosen penguji, adalah bikinan kita. Kita yang tahu inti dan detail permasalahan di dalamnya. Setiap kata yang tercetak di sana berasal dari pemikiran kita. Meski tak kita hafal tiap katanya, paling tidak kita mengerti apa yang kita tuliskan di dalamnya.

Dosen-dosen penguji itu justru tak tahu tentang isi skripsi kita. Mereka justru bertanya, tentang latar belakang masalah, alasan, tujuan, metode yang kita pakai, hingga hasil dan kesimpulan yang kita dapatkan. Dan ketika mereka melihat beberapa bagian yang kurang, mereka akan menambalnya hingga menjadi lebih baik.

Mereka bukan ingin menghakimi, bukan juga ingin menyudutkan. Jadi, ketika memang ada bagian yang kurang ya diiyakan saja. Ketika ada begian yang belom mereka mengerti, jelaskan hingga mereka mengerti maksudnya. Dan beberapa bagian yang kurang itu tak akan menguras nilai kita. Nilai itu akan jatuh ketika kita tak tahu, tak mengerti dan tak bisa menjelaskan isi tumpukan kertas berjudul skripsi itu.

Dan postingan ini semata-mata untuk mengenang dan berbagi saja, kawan :)

9.4.12

Weton dan Jodoh

Pagi ini aku berkutat dengan weton. Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk....

Suatu hal yang sangat tidak biasa sebenarnya, karena selama ini aku tak pernah ambil pusing masalah begini. Yup! Tentu bukan tanpa sebab karena tiba-tiba aku terpikir untuk mencari weton dkk dalam primbon jawa.

Asal muasalnya adalah kunjungan ke rumah eyangku beberapa hari yang lalu. Ada yang berbeda dari kunjungan kami kemarin, yaitu adanya dia. Dan ini adalah pertama kalinya kami datang bersama seorang yang belom jadi anggota keluarga kami secara resmi. Tak ada rencana sebelumnya, tapi Alhamdulillah tak ada masalah apa-apa.

Sempat ada sedikit pembicaraan dengan eyang kemarin. Beliau tanya, “Ini nomor lima kan?” Maksudnya si dia ini bener anak nomor lima kan. Kujawab “Iya, ragil” (bungsu). Eyang bilang “Ya wes, sing penting dudu’ siji-telu utowo mbarep telu” (yang penting bukan satu-tiga atau sulung tiga).

Ya! Dalam mitos orang jawa, anak pertama tidak boleh menikah dengan anak ketiga (satu-tiga). Tak boleh juga kalo ada tiga pihak yang semuanya sulung (mbarep telu). Misalnya saja aku sulung, pasanganku sulung, ibu pasanganku sulung. Nggak baik kata mereka.

Waktu kutanya, memangnya kenapa kalo terjadi begitu. Secara orang jawa kuno, eyang juga tak bisa menjelaskan kenapa bisa begitu, memang begitu warisan dari tetuanya. Orang jawa itu titen, entah apa bahasa indonesianya, tapi mudahnya orang jawa itu pinter menyimpulkan dari apa yang terjadi berulang-ulang.

Eyang kemarin mencontohkan, ada seorang kerabat yang nekad menikah meski mereka anak pertama dan pasangannya anak ketiga. Selang beberapa tahun menikah, salah satunya meninggal. Ada juga - ini terjadi pada keluarga dekatku - ada tiga pihak yang sulung. Belum ada yang meninggal, bahkan anak pertamanya sudah kuliah tahun ketiga sekarang, dan rumah tangga mereka baik-baik saja. Namun, ada kedua pasangan ini mengalami tuna rungu dan otomatis juga jadi tuna wicara.

Hal semacam ini mungkin saja ada penjelasan ilmiahnya. Sempat kucari, tapi belum ketemu. Dulu, waktu SMA aku pernah menanyakan hal ini pada seorang guru biologi, kebetulan waktu itu kita sedang membahas tentang genetika. Waktu itu yang dibahas adalah sulung tiga.

Kalian yang waktu SMA ambil jurusan IPA mungkin masih ingat tentang bagaimana anak yang dihasilkan oleh seorang bergolongan darah A dan AB, misalnya. Yup! Si anak mungkin akan bergolongan darah A, B, atau AB. Dan gen yang dipunyai si sulung yang ketemu sama sulung dari sulung (nggak bingung kan? :D) itu bukan faktor yang bisa menyebabkan kecacatan pada keturunannya.

Jadi, dari tinjauan biologi, mitos itu tak ada penjelasannya.

Mungkin adat dan tradisi orang jawa memang begitu. Ya karena itu tadi, orang jawa kuno itu “titen” dan mereka percaya itu. Mereka hanya tak ingin hal yang buruk itu terjadi pada orang yang mereka kasihi. Bukan hanya soal anak ke berapa yang akan menikah, tapi juga soal tanggal lahir dan wetonnya. Di beberapa daerah bahkan ada yang menyangkut tempat lahir atau rumah tempat tinggal.

Pengalaman seorang teman yang baru merid November 2011 kemarin. Weton mereka dihitung untuk mencari “tanggal baik” untuk hari pernikahan mereka. Dan akhirnya ditemukan dua tanggal, minggu pertama November 2011 itu atau 1,5 tahun lagi. Mau nggak mau mereka harus nurut, dan akhirnya milih November 2011 daripada harus nunggu 1,5 tahun lagi.

Perhitungan weton dan pencarian tanggal baik ini sebenernya nggak ada dalam ajaran Islam. Karena dalam Islam, hukum menikah itu bisa sunnah atau wajib. Untuk yang sudah mampu tentu jadi wajib dan sebenarnya tak perlu menunggu “tanggal baik” tapi buat orang jawa biasanya akan terbentur oleh adat nenek moyang.

Saranku, untuk kalian yang sudah “mampu” untuk menikah, segerakan! Diskusikan dengan orang tua atau yang dituakan, dan carilah “tanggal baik” terdekat agar yang wajib itu bisa segera terpenuhi J

Oiya, sedikit berbagi tentang beberapa sumber yang kubaca saat aku berkutat mencari tahu tentang weton ini. Ketika akan menikah, weton pasangan akan dihitung, bisa dibilang untuk mengetahui apakah pasangan ini cocok atau nggak, kalo menikah akan bahagia atau celaka, dll. Pasangan yang hitungan wetonnya menemu angka yang kurang bersahabat, jangan dulu berkecil hati atau melakukan tindakan ekstim, yaitu putus. Hehehehe…

Pencarian tanggal baik adalah solusinya. Menurut beberapa sumber yang kubaca, itu bukan harga mati, tapi bisa ditawar dengan hitungan tanggal yang bisa dipercaya bisa mengurangi keburukan jika sepasang itu tetap bersama.

Beda dengan urutan anak dalam keluarga yang bisa dibilang sudah jadi harga mati. Karena tak mungkin yang semua anak pertama tiba-tiba saja jadi anak kedua, ketiga dan seterusnya. Namun, sekali lagi, ini adalah kepercayaan orang jawa yang nggak ada dalam kitab suci umat Islam. Lagipula kalo memang kamu yang anak ketiga bergaris jodoh dengan anak pertama, mau apa lagi?

Yang jelas, Allah will always show the way J

 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates