9.5.12

Bahagiakah kamu?


Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengirimkan SMS yang sangat singkat. Sayangnya, waktu itu aku tidak bisa langsung membalas karena aku baru membuka pesan itu keesokan harinya. Dan kuputuskan untuk tidak menjawab SMS itu, karena rasa-rasanya aku perlu berpikir lebih lama untuk bisa memberikan jawaban terbaik.

SMS singkat itu berisi pertanyaan “kamu bahagia?”

Pertanyaan itu mengingatkanku pada diskusi bersama seorang teman yang lain. Ya, tentang bahagia. Apa itu bahagia? Dari mana asalnya bahagia? Bagaimana seorang bisa bahagia?

Teman diskusiku ini bisa dibilang seorang yang open minded, meski kadang dia seorang dengan jalan pemikiran yang agak aneh. Tapi, untuk urusan bahagia ini, kami punya satu titik temu.

Diskusi yang tak terlalu panjang ini sampai pada satu kesimpulan, bahwa bahagia adalah perasaan senang yang muncul ketika kita “mau” berdamai. Berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan keadaan, berdamai dengan segala hal tak menyenangkan.

Bahagia adalah keputusan yang datang dari dalam diri. Dalam kondisi tak menyenangkan, seorang bisa saja marah, mencaci, bahkan mengutuk. Reaksi spontan dan wajar yang muncul pada diri seseorang yang berada dalam situasi tak menyenangkan. Namun, ada juga seorang yang legowo, calm down dan move on ketika dihadapkan pada kondisi yang sama. Seorang ini tentu telah memiliki kemampuan mengendalikan diri yang luar biasa, dan itu bisa dilatih.

Bahagia adalah doktrin terhadap diri kita sendiri, that i am happy.

Bagaimana cara agar bahagia? Semestinya diri sendiri adalah yang paling mengerti bagaimana cara untuk bisa bahagia. Karena asal muasal bahagia itu ada dalam diri kita sendiri. Ketika seorang telah memutuskan untuk berdamai dengan keadaan, menerima dan bersyukur, semestinya dia telah menemukan jalan untuk bahagia.

Dan saat ini aku bahagia. Aku bersyukur dengan semua proses yang sudah kulalui. Masih terbayang jelas di ingatanku hari-hari yang terlewati dengan keputusan yang salah. Terlalu larut dalam perasaan kecewa, lupa bagaimana caranya bersyukur, tak tau sisi hati sebelah mana yang masih bisa kupakai untuk menerima keadaan dengan ikhlas.

Allah tak pernah meninggalkan umat-Nya. Suka dan lara itu datang dari-Nya. Hanya untuk menunjukkan betapa Dia menyayangi kita. Untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih kuat. Seharusnya kita tak perlu ragu pada apa yang telah digariskan-Nya untuk kita, karena pasti, Dia telah menyiapkan yang terbaik untuk kita. Jauh lebih baik dari yang kita pikirkan atau harapkan.

Sering kali kita tak menyadari, bahwa kita telah sampai di titik balik. Saat kita bisa mengambil keputusan untuk bahagia.

Kau tau? Allah menunjukkan jalan yang sangat sederhana agar aku mau mengubah cara berpikir dan mengubah keputusanku. Dia juga telah mengirimkan seorang yang sangat sederhana dan tak sempurna agar aku benar-benar ikhlas menjalani keputusanku untuk bahagia. Dia memberikan apa yang aku butuhkan, yang terbaik meski tak sempurna.

Banyak hal tak terbayang sebelumnya. Ketika aku bertemu gadis kecil yang tak diinginkan ibunya itu, misalnya. Ah, betapa aku masih sangat beruntung karena memiliki orang tua yang utuh dan menyayangiku, menerimaku apa adanya.

Sering kali kita lalai mensyukuri hal-hal kecil di sekitar kita, hanya karena kita telah terbiasa dengan hal-hal tersebut. Sering kali kita sulit menerima dan berdamai dengan keadaan dan lupa ada banyak orang yang tak seberuntung kita.

Dan bagiku, aku tak lagi punya alasan untuk tak bahagia. Kamu?


5.5.12

Asa


Kubiarkan lelah ini menguar ke udara bersama uap seduhan coklat panas di cangkir unguku. Mereka menyatu dan terbawa semilir angin yang malas-malasan berhembus malam ini.

Kurelakan pikir ini mengembara bersama sejumput kenangan yang melintasi benak. Terlalu banyak hal telah terlewati, terlalu banyak yang luput untuk disyukuri.

Tubuh ini rebah, kedua lengan memeluk erat gumpalan berjahit berbentuk kodok dengan mata besar. Ada nama yang tersebut dalam hati. Gaungnya menghadirkan hangat yang seketika mengaliri tubuh bersama aliran darah.

Mataku sudah terpejam, senyumku terkembang, nama itu berulang dalam hati. Menggaung. Dan diam-diam aku berharap pemiliknya akan mendengar dan datang menjemput asa.



13.4.12

Nostalgia Skripsi

Melihat beberapa adek kelas di kampus sedang serius ngerjain skripsi, jadi inget akhir tahun 2009 lalu. Ketika aku, Ratri, Krista dan Lala bareng-bareng berjibaku demi menyelesaikan studi 3,5 tahun dan wisuda 9 Januari 2010. Terhitung 6 bulan sejak penerimaan transkrip semester 6, haru biru pengerjaan tugas akhir itu ada.

Pendaftaran skripsi di kampusku bersamaan dengan entry KRS untuk mahasiswa. Kalo tak salah sekitar bulan September awal. Dilanjut dengan bayar biaya bimbingan, mendaftar di fakultas, memilih dosen pembimbing dan mulai berkutat dengan judul dan permasalahan. Dosen pembimbingku (doping) waktu itu Bu Diva Claretta.

Bu Diva ini adalah salah satu dosen galak di jurusanku. Sebenernya bukan galak, tapi cara bicaranya tegas dan suaranya keras. Pengennya milih Bu Umar yang sabar, tapi beliau kelewat populer sampe terlalu banyak mahasiswa yang terdaftar sebagai bimbingannya. Tak apa, Bu Umar dan Bu Diva juga selalu berkoalisi. Lagipula Bu Umar ini sudah pernah jadi dopingku waktu magang.

Dan Alhamdulillah, meski secara resmi tercatat dopingku Bu Diva, tapi Bu Umar masih perhatian aja. Jadi kalo Bu Diva tak ada di tempat, beliau dengan suka rela menampung keluh kesahku tentang momok bernama skripsi itu. Beliau juga aktif tanya perkembangannya, sudah sampai bab berapa, ada kesulitankah, dan tak lupa support yang tak habis sampe lulus.

Dan mulailah kami berempat mengerjakan skripsi itu, merangkak meraih nilai bagus dan lulus 3,5 tahun. Tentunya tidak tanpa motivasi yang kuat untuk semua itu. Ketika beban kuliah yang seharusnya tuntas 7 semester, tapi kami menyelesaikannya lebih cepat setengah tahun dan dengan nilai aku bilang memuaskan, setidaknya IP masih di atas 3. Dengan varian motivasi dari masing-masing, kami berjibaku (lebai :D).

Skripsiku pake metodologi penelitian kualitatif, tepatnya semiotik. Kenapa? Karena buatku itu lebih mudah, ndak ribet sebar quesioner, ndak ribet itung-itungan. Karena aku tak begitu kuat di hitungan dan lebih suka mengarang. Hahahahahaha...

Aku ingat sekali, kala itu aku masih pake HP Sony Ericsson W380i, modelnya flip. Di HP SE memang yang agak jadul gitu biasanya memang bisa majang note di homescreen-nya. Biasanya aku menuliskan motto hidup di situ, “there’s always a way to go out.” Namun, selama skripsi itu aku menuliskan “WISUDA 9 JANUARI 2010.” Sekedar untuk selalu memotivasi dan mengingatkan bahwa aku punya target besar, biar ndak males-malesan.

Alhamdulillah, man jadda wa jadda, yang berusaha pasti akan berhasil. Dan kami menuai hasil memuaskan setelah kurang lebih 4 bulan lamanya berkutat dengan skripsi. Tanggal 17 Desember 2009, kami berempat bersama puluhan teman lain dinyatakan lulus. Puji syukur J

Sebenarnya, skripsi itu tak terlalu sulit. Hanya butuh niat untuk bisa menyelesaikannya. Yang bikin sulit adalah karena pola pikir kita sendiri. Kadang kita hanya ragu melangkah, padahal sebenarnya kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan dengan skripsi itu. Kadang kita hanya merasa tak mengerti harus apa, merasa tak paham dengan materinya, padahal paling tidak sudah 3 tahun kita menekuni materi serupa.

Ketika mengerjakan pun, kadang kita bingung memikirkan ketika nantinya yang kita bahas akan 
dipertanyakan banyak pihak, terutama ketika ujian. Pertanyaan dari dosen penguji kadang sangat mengganggu pikiran, bikin galau walau hanya memikirkannya. Apalagi kalo dapet cerita dari senior yang bilang dosen ini kalo tanya detail, dosen ini pertanyaannya sering kali mojokin sampe kita ndak bisa jawab, dosen itu sukanya cari-cari celah yang bisa menjatuhkan kita.

Hash! Bukan begitu, sama sekali bukan. Dosen mana yang tak ingin mahasiswanya lulus? Justru mereka begitu agar kita lulus. Sekalipun dosen itu pernah mendendam sama kita (mungkin) dia pasti juga penge kita lulus. Setidaknya dia pengen kita cepet-cepet hengkang dari kampus biar ndak bikin ulah lagi. Hahahahahaha....

Aku masih sangat ingat, ketika hari ujian skripsi tiba, kami berempat berusaha saling menguatkan. Aku lupa dari mana asalnya, waktu itu kami semua mendoktrin diri dengan berpikir bahwa “Ini bukan ujian, ini hanya diskusi atau konsultasi antara mahasiswa dengan dosennya tentang materi skripsi.”

Yupz! Memang begitulah, setidaknya anggap saja begitu. Aku tak munafik, bahwa ketika namaku dipanggil seluruh badan rasanya gemetar, tangan dingin tak karuan, apalagi waktu harus duduk di tengah ruangan yang hanya berisi 3 orang dosen dengan wajah yang bagiku menyeramkan waktu itu. Tapi aku selalu mencoba rileks, dengan tersenyum, dengan berani memandang mata mereka satu per satu. Dan ternyata, mereka ndak serem-serem amat koq, masih serem si amat. Wkwkwkwkwkwk...

Dan ujian itu hanyalah diskusi. Skripsi yang di depan kita, yang juga dipegang oleh para dosen penguji, adalah bikinan kita. Kita yang tahu inti dan detail permasalahan di dalamnya. Setiap kata yang tercetak di sana berasal dari pemikiran kita. Meski tak kita hafal tiap katanya, paling tidak kita mengerti apa yang kita tuliskan di dalamnya.

Dosen-dosen penguji itu justru tak tahu tentang isi skripsi kita. Mereka justru bertanya, tentang latar belakang masalah, alasan, tujuan, metode yang kita pakai, hingga hasil dan kesimpulan yang kita dapatkan. Dan ketika mereka melihat beberapa bagian yang kurang, mereka akan menambalnya hingga menjadi lebih baik.

Mereka bukan ingin menghakimi, bukan juga ingin menyudutkan. Jadi, ketika memang ada bagian yang kurang ya diiyakan saja. Ketika ada begian yang belom mereka mengerti, jelaskan hingga mereka mengerti maksudnya. Dan beberapa bagian yang kurang itu tak akan menguras nilai kita. Nilai itu akan jatuh ketika kita tak tahu, tak mengerti dan tak bisa menjelaskan isi tumpukan kertas berjudul skripsi itu.

Dan postingan ini semata-mata untuk mengenang dan berbagi saja, kawan :)

9.4.12

Weton dan Jodoh

Pagi ini aku berkutat dengan weton. Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk....

Suatu hal yang sangat tidak biasa sebenarnya, karena selama ini aku tak pernah ambil pusing masalah begini. Yup! Tentu bukan tanpa sebab karena tiba-tiba aku terpikir untuk mencari weton dkk dalam primbon jawa.

Asal muasalnya adalah kunjungan ke rumah eyangku beberapa hari yang lalu. Ada yang berbeda dari kunjungan kami kemarin, yaitu adanya dia. Dan ini adalah pertama kalinya kami datang bersama seorang yang belom jadi anggota keluarga kami secara resmi. Tak ada rencana sebelumnya, tapi Alhamdulillah tak ada masalah apa-apa.

Sempat ada sedikit pembicaraan dengan eyang kemarin. Beliau tanya, “Ini nomor lima kan?” Maksudnya si dia ini bener anak nomor lima kan. Kujawab “Iya, ragil” (bungsu). Eyang bilang “Ya wes, sing penting dudu’ siji-telu utowo mbarep telu” (yang penting bukan satu-tiga atau sulung tiga).

Ya! Dalam mitos orang jawa, anak pertama tidak boleh menikah dengan anak ketiga (satu-tiga). Tak boleh juga kalo ada tiga pihak yang semuanya sulung (mbarep telu). Misalnya saja aku sulung, pasanganku sulung, ibu pasanganku sulung. Nggak baik kata mereka.

Waktu kutanya, memangnya kenapa kalo terjadi begitu. Secara orang jawa kuno, eyang juga tak bisa menjelaskan kenapa bisa begitu, memang begitu warisan dari tetuanya. Orang jawa itu titen, entah apa bahasa indonesianya, tapi mudahnya orang jawa itu pinter menyimpulkan dari apa yang terjadi berulang-ulang.

Eyang kemarin mencontohkan, ada seorang kerabat yang nekad menikah meski mereka anak pertama dan pasangannya anak ketiga. Selang beberapa tahun menikah, salah satunya meninggal. Ada juga - ini terjadi pada keluarga dekatku - ada tiga pihak yang sulung. Belum ada yang meninggal, bahkan anak pertamanya sudah kuliah tahun ketiga sekarang, dan rumah tangga mereka baik-baik saja. Namun, ada kedua pasangan ini mengalami tuna rungu dan otomatis juga jadi tuna wicara.

Hal semacam ini mungkin saja ada penjelasan ilmiahnya. Sempat kucari, tapi belum ketemu. Dulu, waktu SMA aku pernah menanyakan hal ini pada seorang guru biologi, kebetulan waktu itu kita sedang membahas tentang genetika. Waktu itu yang dibahas adalah sulung tiga.

Kalian yang waktu SMA ambil jurusan IPA mungkin masih ingat tentang bagaimana anak yang dihasilkan oleh seorang bergolongan darah A dan AB, misalnya. Yup! Si anak mungkin akan bergolongan darah A, B, atau AB. Dan gen yang dipunyai si sulung yang ketemu sama sulung dari sulung (nggak bingung kan? :D) itu bukan faktor yang bisa menyebabkan kecacatan pada keturunannya.

Jadi, dari tinjauan biologi, mitos itu tak ada penjelasannya.

Mungkin adat dan tradisi orang jawa memang begitu. Ya karena itu tadi, orang jawa kuno itu “titen” dan mereka percaya itu. Mereka hanya tak ingin hal yang buruk itu terjadi pada orang yang mereka kasihi. Bukan hanya soal anak ke berapa yang akan menikah, tapi juga soal tanggal lahir dan wetonnya. Di beberapa daerah bahkan ada yang menyangkut tempat lahir atau rumah tempat tinggal.

Pengalaman seorang teman yang baru merid November 2011 kemarin. Weton mereka dihitung untuk mencari “tanggal baik” untuk hari pernikahan mereka. Dan akhirnya ditemukan dua tanggal, minggu pertama November 2011 itu atau 1,5 tahun lagi. Mau nggak mau mereka harus nurut, dan akhirnya milih November 2011 daripada harus nunggu 1,5 tahun lagi.

Perhitungan weton dan pencarian tanggal baik ini sebenernya nggak ada dalam ajaran Islam. Karena dalam Islam, hukum menikah itu bisa sunnah atau wajib. Untuk yang sudah mampu tentu jadi wajib dan sebenarnya tak perlu menunggu “tanggal baik” tapi buat orang jawa biasanya akan terbentur oleh adat nenek moyang.

Saranku, untuk kalian yang sudah “mampu” untuk menikah, segerakan! Diskusikan dengan orang tua atau yang dituakan, dan carilah “tanggal baik” terdekat agar yang wajib itu bisa segera terpenuhi J

Oiya, sedikit berbagi tentang beberapa sumber yang kubaca saat aku berkutat mencari tahu tentang weton ini. Ketika akan menikah, weton pasangan akan dihitung, bisa dibilang untuk mengetahui apakah pasangan ini cocok atau nggak, kalo menikah akan bahagia atau celaka, dll. Pasangan yang hitungan wetonnya menemu angka yang kurang bersahabat, jangan dulu berkecil hati atau melakukan tindakan ekstim, yaitu putus. Hehehehe…

Pencarian tanggal baik adalah solusinya. Menurut beberapa sumber yang kubaca, itu bukan harga mati, tapi bisa ditawar dengan hitungan tanggal yang bisa dipercaya bisa mengurangi keburukan jika sepasang itu tetap bersama.

Beda dengan urutan anak dalam keluarga yang bisa dibilang sudah jadi harga mati. Karena tak mungkin yang semua anak pertama tiba-tiba saja jadi anak kedua, ketiga dan seterusnya. Namun, sekali lagi, ini adalah kepercayaan orang jawa yang nggak ada dalam kitab suci umat Islam. Lagipula kalo memang kamu yang anak ketiga bergaris jodoh dengan anak pertama, mau apa lagi?

Yang jelas, Allah will always show the way J

9.3.12

Give it back to Allah


Ada kalanya urusan hati dan pikiran itu berpengaruh pada berat badan. Itu status FB yang kutulis beberapa hari yang lalu, hari pertama pulang ke rumah. Yup, timbangan badan adalah yang pertama kali kutuju saat baru masuk ke dalam rumah (maklum di koz nggak ada timbangan). Dan betapa shock-nya aku demi melihat angka di timbangan itu. Aku benar-benar mencapai berat badan maksimal.

Cuma 2 bulan, berat badanku naik 3 kg. Padahal biasanya butuh waktu berbulan-bulan hanya untuk naik 1-2 kg. Dan yang lebih parah angka berat badan itu mencapai batas maksimal, ini adalah pertama kalinya berat badanku sampai di angka itu. Bukan, aku bukan cewek yang pusing sama berat badan. Hanya saja ini bener-bener amazing.

Aku masih inget, akhir tahun lalu, bulan Desember lalu aku baru saja kena serangan lambung. Gara-gara galau tiada tara, aku tak doyan makan, badan kurus kering, muntah setiap kali makan, sampai-sampai kena infeksi lambung. Setelah itu, meski tiap pagi harus bangun dengan perut tak enak, berat badanku mulai kembali ke asal. Angka stabil.

Mungkin memang urusan hati dan pikiran itu berpengaruh pada berat badan, apalagi buat perempuan. Setidaknya itu berlaku buatku dan beberapa orang teman perempuan. Mungkin karena pada dasarnya perempuan memang makhluk pemikir, over sensitive, tak terlalu lihai mengendalikan perasaan dengan pikiran yang lebih logis. Bisa jadi karena perempuan punya rahim, makhluk penyayang. J

Ada banyak pelajaran yang aku ambil, selain bahwa urusan hati mempengaruhi berat badan. Hehehehehe…
Ketika dirundung masalah, diterpa suatu hal yang menyakiti hati dan mengusik pikiran, atau bahasa ABG sekarang “galau” seorang cenderung lupa segalanya. Yang ada di pikirannya adalah masalah itu, dan kadang kita berkutat mencari di mana jalan keluarnya. Kadang, saat seperti itu kita bahkan lupa caranya bahagia.

Wajar memang, ketika hati tak nyaman, pikiran tak tenang, rasanya semua sel dalam tubuh melemah. Tak ingin melakukan apa-apa, tak ingin memikirkan apa-apa selain persoalan yang ada. Banyak berharap, banyak kecewa. Kadang, kita bahkan memilih untuk terlelap, karena hanya dengan cara itu hati tak merasakan apa-apa dan otak tak memikirkan apa-apa. Berharap ketika bangun, akan ada titik terang, tapi itu tak pernah terjadi. Segalanya tetap sama. Hati tetap tak nyaman. Pikiran tetap tak tenang. Dan masalah masih merundung.

Allah mengingatkanku dengan infeksi lambung. Menamparku dengan kenyataan yang memupuskan harapan. Hingga akhirnya membuatku benar-benar berpikir bahwa Allah memiliki rencana yang indah di balik semua masalah itu. Then, I give it back to Allah.

Iya, aku harus melukai lambungku dulu untuk sampai pada kesadaran itu. Aku harus menahan sakit perut setiap pagi dalam proses penyembuhannya. Aku harus rela siklus periodikku berantakan karena beban pikiran yang mempengaruhi stabilitas hormonal. Dan aku harus menguras tabungan untuk obat-obat yang harus kutebus.

Sebuah titik balik yang sama sekali di luar dugaan. Ketika aku berdamai dengan diriku sendiri, kembali merasa nyaman dengan diriku sendiri. Aku kembali tertatih belajar bersyukur seperti bayi yang baru belajar berjalan. Tabir demi tabir terbuka, hingga mataku benar-benar bisa melihat dan aku bisa menentukan sikap.

Titik balik yang sederhana itu menuntunku untuk kembali berani merangkai mimpi. Dan tanpa kusadari ada banyak hal yang sudah aku tinggalkan demi memenuhi ego galau itu. Bersyukur, tersenyum, tertawa, bahagia.

Yang terpenting, saat “galau” itu kita sering kali lupa bahwa hidup ini bukan sepenuhnya milik kita. Dialah yang sebenar-benarnya memiliki hidup kita. Dia pula yang telah menggariskan segala sesuatu tentang kita, jalan hidup kita. Dan sering kali, kita tak menyadari bahwa Dialah yang paling mengerti yang terbaik untuk kita. Dia selalu memberikan yang terbaik, menyediakan akhir paling indah dan sempurna, meski kadang kita harus menempuh jalan berputar untuk mencapainya.

Give it back to Allah.

Kita hanya harus berusaha semaksimal mungkin dan berdoa sebanyak mungkin. Dia tak akan pernah meninggalkan kita dan akan selalu memberikan yang terbaik.

Dan inilah hasilnya. Ibuku bilang aku sudah benar-benar menemukan apa yang aku cari. Dan bahagia ini adalah ujian dari-Nya. Hati yang tentram ini, yang sudah membuat berat badanku naik tak karuan, adalah harga yang aku dapat dari usahaku untuk bahagia. Aku tak tahu apa yang akan terjadi di depan. Apa ketentraman hati ini benar takdirku atau hanya rangkaian jalan berputar yang harus kutempuh. Apa keberanian untuk merangkai mimpi masa depan ini akan terbayar nyata.

Yang pasti aku akan tetap berusaha untuk bahagia. Aku akan berusaha mengunci hal-hal tidak menyenangkan yang ada dengan bersyukur, berpikir bahwa inilah yang terbaik yang terberi dari-Nya. Aku hanya akan mengusahakan yang terbaik dan berdoa untuk yang terbaik. Endingnya, itu sudah jadi urusan Allah.

Kamu?






malam (lagi)

malam, 
apakah langitmu berbintang? 
jika iya, kenapa tak bisa kulihat satu pun? 
aku rindu.. 

malam, 
taukah kau? langitku gelap kini 
tanpa bintang, tanpa titik cahaya, tanpa harap 
hanya pekat.. 

malam, 
maafkanlah.. 
aku yang tak mengerti kemana terangmu memancar 
aku yang tak mampu menerawang pekatmu 
aku yang tak paham dengan redupmu 
maafkanlah... 

malam, 
aku merindu dinginmu 
aku merindu gemintangmu 
aku merindu pekatmu 
aku merinduimu...



nemu di note fb,
dated september 26th 2011

21.2.12

Pantai Delegan Sudah Lebih Terawat


Pantai Delegan. Aku ingat pertama kali datang ke pantai di ujung kota Gresik ini, kalo tak salah awal tahun 2009. Kala itu, aku bersama lima orang teman berangkat dari Surabaya demi memenuhi rasa penasaran sama pantai ini, sekaligus menghilangkan penat dari aktifitas kuliah dan magang.

Pantai yang letaknya di desa Delegan Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik ini saat itu, rasanya memang cukup untuk menghapus sedikit penat ibukota. Meski waktu itu keadaan pantai ini tak seberapa terawat, banyak sampah di mana-mana dan fasilitasnya kurang memadai. Namun, karena kami datang saat matahari terbit, jadi keadaan yang tak seberapa menyenangkan ini terbayar.

Dan tahun 2012 ini, aku kembali ke pantai itu.

Pertengahan Februari lalu, ada acara pernikahan seorang saudara di Lamongan. Setelah akad nikah, kami beramai-ramai pergi ke pantai itu. Sejujurnya, aku tak terlalu tahu detail jalan yang kami lalui. Hanya saja, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dari desa Karangbinangun yang ada di perbatasan Gresik-Lamongan sampai ke Pantai Delegan, dengan mobil berkecepatan standart.

Pemerintah Kabupaten Gresik sepertinya menyadari adanya potensi wisata di pantai ini. Terjeda tiga tahun, aku melihat adanya perbedaan. Yang dulu banyak sampah di mana-mana, kini jadi lebih bersih. Yang dulu pasirnya tak seberapa bersih dan bercampur dengan karang-karang, kini jadi lebih bersih, putih. Dan air lautnya jernih, tak keruh seperti dulu.

Selain itu, pantai ini juga lebih tertata. Jika dulu pengunjung harus berpanas-panas ria karena tak ada tempat berteduh selain di warung, kini ada tempat duduk lengkap dengan payungnya. Tak terlihat lagi kapal bertengger di tepian laut.

Sayangnya, waktu itu kami datang terlalu sore. Baru foto-foto sebentar, adek-adek baru nyebur ke air sebentar, petugas sudah koar-koar lewat pengeras suara. Yupz, pantai ini tidak lagi menerima pengunjung dan dengan halus meminta pengunjung di dalam untuk segera berkemas saat jam sudah menunjukkan pukul 17.00 wib.

Meski tak seluas dan sebagus Pantai Parangtritis, namun untuk standart wisata lokal, Pantai Delegan ini sudah terbilang bagus. Apalagi sudah ditambah dengan TPI khusus, tempat mancing, tempat nongkrong di sepanjang garis pantai yang lengkap dengan warung kopi dan jagung bakar.



 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates