Kadang, aku merasa begitu lelah dengan rutinitas yang aku jalani. Dulu, awal tahun pertamaku di organisasi pers kampus (gita), aku masih bersemangat. Aku banyak menemukan hal baru karena sebelumnya aku tak begitu ngerti tentang pers. Aku masuk UKM ini hanya karena aku ingin menulis (hehehe…). Lalu, saat hari-hari mulai disibukkan dengan mencari berita, wawancara, nulis berita, rapat dll, aku mulai merasa lelah, aku jenuh. Belum lagi karena rutinitas kuliah.
Jenuhku mereda saat awal tahun kedua aku terpilih jadi PimRed. Aku mulai bersemangat lagi. Tapi setelah setengah tahun berlalu, rasa lelah dan jenuh itu datang lagi. Lelah memimpin rapat redaksi, lelah ngedit berita, lelah lay out, dan lelah. Tapi aku merasa punya tanggung jawab menyelesaikan tugasku, karena aku tau aku punya tugas dan aku tau tiga sahabatku percaya padaku. Mereka membuat aku bersemangat lagi, aku tak ingin menyerah pada rasa lelah ini.
Tahun berikutnya, saat pergantian pengurus, aku jadi PimPrush. Kerja yang menurutku sangat berat karena aku gak punya pengalaman di bidang ini, tapi lagi-lagi ketiga sahabatku menguatkanku (teng kyu yo rek..!! hehe..). Mereka bilang, kalo jadi PimRed aja bisa, kenapa PimPrush gak bisa? Tapi sekali lagi, aku merasa tak sanggup. Kalo PimRed enak, aku punya minat sama tulisan, tapi kalo PimPrush? Huwaduhhhh……..!!!!!!!
But.., want don’t want harus dijalani juga, karena beberapa kali usul reshuffle juga gak di-ACC sama Pimum. Dan minim pengalaman plus rasa tak sanggup ini kembali membuatku lelah dan jenuh. Aku harus mengusahakan dana, tapi aku gak punya pengalaman untuk ini. Bersyukur sekali aku punya tiga sahabat ditambah pengurus-pengurus 2007 lainnya yang bisa membantuku hingga akhirnya tercetus ide untuk workshop.
Di tengah kesibukan magang, workshop jalan dengan dikoordinir temen-temen baru angkatan 2008 yang patut dapet empat jempol karena semangatnya. Hasilnya lumayan, setidaknya bisa memberikan sumbangsih nama buat modal dikenal, bahwa gita gak melulu soal berita dan redaksi, tapi juga punya usaha pengembangan. Hasil yang nyata adalah salah satu peserta workshop itu tahun ini mendaftar jadi anggota gita. Not bad, kan..??
Dari rangkaian itu, aku sadar kalo begitu berartinya mempertahankan semangat untuk terus eksis, untuk berkarya dan gak mudah menyerah pada ego. Kalo saja dulu aku memilih menyerah pada lelah dan jenuhku, aku tak mungkin bisa jadi PimRed, aku tak mungkin juga bisa ngadain workshop bareng generasi penerus gita dan berhasil menarik peminat yang lumayan.
Dan semangat itu ada pada diri kita sendiri. Pihak luar, sahabat-sahabat itu pengompor yang selalu bisa membarakan semangat yang memang udah ada dalam diri kita. Semangat untuk belajar, semangat untuk terus berkarya dan bersama dengan keluarga-keluarga baru kita. Semangat untuk gak begitu saja menyerah pada lelah dan jenuh.
Karena lelah dan jenuh itu sangat wajar terjadi, bukan hanya dalam hubungan belajar atau berorganisasi, tapi pada semua sisi hidup kita, pada rutinitas, pada hubungan antarpersonal atau apapun. Tapi, jangan menyerah dan mengalah pada lelah dan jenuh itu, karena kalo nyerah, kita akan kehilangan banyak hal. Paling tidak, kita telah kehilangan kekuatan untuk bangkit. Jangan selalu mengandalkan orang lain, jangan mengharap semangat dari orang lain, karena inti semangat itu ada dalam diri kita sendiri. Kita harus ingat, kita punya tujuan, kita punya cita-cita dan impian yang harus tercapai.
Lelah dan jenuh hanya titik yang harus disiasati dengan memompa semangat itu lebih kuat. Lelah dan jenuh hanyalah proses yang harus kita lalui ditengah rutinitas yang kadang terasa membelenggu. Seorang temanku bilang, “hanya kita yang bisa mengatasinya, hanya kita yang bisa membuat rutinitas itu menjadi sesuatu yang indah dan berarti untuk diri kita, dan hanya kita yang bisa membuat lelah dan jenuh ini menjadi titik yang hanya harus dilalui dalam berproses. Hingga saat ini, aku masih berusaha dan aku ingin kita berusaha bersama-sama mengatasi lelah dan jenuh yang bisa datang kapan saja.
Jadi, saat lelah dan jenuh itu terasa, katakanlah pada dirimu sendiri, “Aku tak ingin lelah dan jenuh ini mengalahkanku.”
0 komentar:
Posting Komentar