Orang Lamongan itu punya tradisi sendiri dalam hal lamar-melamar. Jika biasanya
kita selalu mendapati pria yang melamar gadis, di beberapa desa dan kecamatan
yang ada di Lamongan, yang menjadi pihak pelamar adalah keluarga si gadis. Adat
ini tidak berlaku jika pria berasal dari Lamongan sedangkan si gadis dari luar
Lamongan.
Untung saja, di desa tempat kelahiran Mas tidak lagi
memberlakukan adat itu. Lagipula meski adat itu masih tetap dilestarikan, dia
tak mendapatkan gadis Lamongan, jadi tetap saja dia yang datang melamar. Tapiiiiii...,
mereka juga memiliki tradisi sendiri, yaitu tahapan prosesi lamaran ini.
Yang pertama pihak keluarga inti (utamanya ayah dan ibu)
akan datang ke rumah si gadis untuk bersilaturahmi sekaligus menanyakan apakah
gadis yang diinginkannya masih bisa dan mau diminta. Mereka tidak mengharuskan keluarga
gadis menjawab dengan membalas kunjungan, karena bisa langsung dijawab saat itu
juga.
Sebulan kemudian, keluargaku memberikan balasan kunjungan
untuk sekaligus membahas tanggal pernikahan. Kunjungan kami ke Lamongan itu
tidak langsung menentukan tanggal berapa akad dan resepsi pernikahan akan digelar,
tapi lebih pada pembahasan tanggal yang memungkinkan untuk dilaksanakannya
acara sakral tersebut.
Seperti yang umumnya kita tahu, sebagai orang dengan latar
belakang adat jawa, tentu akan ada perhitungan tanggal baik yang ditentukan
dari banyak faktor, salah satunya yang aku tau adalah weton dan hari naas. Weton
adalah tanggal kelahiran calon mempelai dilihat dari kalender jawa. Dan hari
naas yang dimaksud adalah hari meninggalnya keluarga dekat. Orang tua kuno di
jawa percaya kalo anak-anak mereka tidak boleh menikah di hari pasaran yang
sama dengan hari pasaran meninggalnya keluarga.
Kunjungan itu juga memastikan kapan acara lamaran resmi akan
digelar. Yup! Inilah tahapan kedua dari prosesi adat lamaran mereka. Di tahap
kedua ini, mereka akan melamar secara resmi, dengan membawa saserahan atau
peningset, dan kadang mereka menghendaki adanya tukar cincin. Kata Mas, tukar
cincin itu adalah untuk tanda pengikat, bahwa dua orang ini sudah berkomitmen
untuk saling menjaga hati mereka dan tanda mereka tak lagi “available.”
Menurut ibuku, belanja peningset itu mustinya dilakukan
sendiri oleh pihak laki-laki, biar surprise dan sekaligus biar lelaki itu bisa
mengerti apa yang disukai atau ndak disukai, apa yang pantas dan ndak pantas
untuk calon istrinya. Tapi, berdasarkan saran dari beberapa teman dan kemauan
dari keluarga Mas, akhirnya belanjanya berdua. Aku diminta milih sendiri
barang-barang yang aku suka, biar nanti ndak mubadzir kata mereka.
Isi peningset ini macem-macem. Intinya peningset ini adalah
barang-barang yang biasa dipakai si gadis sehari-hari. Pasti bertanya-tanya
deh, apa tujuan adanya peningset ini? *sotoy*
Peningset itu asalnya dari bahasa jawa yang artinya
pengikat, istilah lainnya saserahan atau barang hantaran. Adanya peningset ini
adalah sebagai simbol bahwa lelaki yang melamar itu telah siap untuk
bertanggung jawab dan memenuhi segala kebutuhan istrinya kelak. Peningset ini
umumnya diberikan di hari yang sama sebelum akad nikah dilaksanakan, tapi bisa
juga diberikan hari-hari sebelumnya. Menurut adatnya Mas, barang-barang
hantaran ini diberikan pada saat lamaran.
Tentang isinya ya itu tadi, tergantung dari kebutuhan si
gadis, makanya disarankan kita *sebagai si gadis* meluangkan waktu untuk
keperluan belanja itu. Berdasarkan referensi dari beberapa teman yang sudah
menikah, isi peningset itu antara lain : 1 set alat make up, 1 set pakaian,
sepatu atau sandal, 1 set alat mandi, 1 set alat ibadah, sprei, tas, dan
lain-lain sesuai kebutuhan si gadis.
Untuk hari spesial itu, aku sama Mas sepakat untuk ada acara
tukar cincin. Jadi sebelum hari H lamaran, kita udah nyari dan ngukir inisial
nama dan tanggal bersejarah kita. Aku tak tahu pasti di mana seharusnya cincin
pertunangan itu disematkan, tapi waktu acara kemarin cincin itu ditaruh di jari
manis tangan kiri, baru nanti waktu akad nikah cincin itu dipindah ke jari
manis tangan kanan.
Naaah, karena waktu beli kita ngukur cincin pake jari manis
tangan kanan dan dalam keadaan lagi gendut-gendutnya, makanya waktu cincin itu
dipakaikan di jari manis tangan kiri jadi longgar bangeeeet.. *hahahahaha...*
Alhasil beberapa waktu setelah acara kelar dan itu cincin masih aja longgar,
kita sepakat mindahin cincin itu ke jari tengah tangan kiri.
Alhamdulillah, hari itu acara berjalan lancar jaya, meski rombongan
dari Surabaya dan Lamongan datang dua jam lebih lambat dari waktu yang
dijadwalkan. Hari itu, kedua pihak keluarga berembuk lagi soal tanggal
pernikahan. Keluarga Mas sudah punya beberapa alternatif tanggal yang
didapatkan sesuai dengan “perhitungan” tanggal baik. Dan berdasar kesepakatan
yang menjunjung tinggi adat budaya, ditetapkanlah tanggal yang menurut dua
belah pihak adalah tanggal terbaik.
![]() |
i called this; a miracle :) |
0 komentar:
Posting Komentar