menenggelamkan diri dalam remang sang chandra kirana
membiarkan rindu menggelayut manja
berayun dari hati pindah ke otak
dari otak ke aliran darah
dari aliran darah ke nadi
dari nadi kembali ke jantung hati
<em>bukankah tak baik membiarkannya terus begitu?</em>
si akal sehat menegur tanpa peduli teririsnya hati
pikirku jadi termenung
kalbuku dirundung bingung
jemari lalu mengibas
mengusir pergi segala rasa bersalah
<em>bukan mauku jika dia terus ada di sini</em>
<em>bermanja-manja denganku</em>
aku menyanggah
membela diri
merasai tak bersalah
anganku lalu terbang
dari timur ke barat
dari selatan ke utara
satu per satu rasa dibawanya masuk dalam diriku
gelisah membekapku
menutup segala aliran udara
membawakanku ruang hampa udara berdinding putih
<em>pelan-pelan kau akan mati</em>
bisik si akal sehat lagi
hatiku tak lagi diiris
tapi ditusuk
dicincang hingga ribuan kali
sesuatu dari dalam hati terhuyun muncul
mendekati akal sehat
membawakannya secangkir teh hangat
lalu berbincang tentang suatu perkara
<em>jangan paksa dia untuk membuang rindu itu</em>
dia berujar lembut
suaranya seakan meniupkan udara untukku bernapas
gelisah mulai menjauh
ketenangan samar mendatangiku
<em>biarlah rindu itu ada dalam dirinya</em>
<em>memaksakan kehendakmu padanya sama seperti membunuhnya</em>
<em>kita semua tak ingin dia mati</em>
<em>lebih tepat, kita tak ingin mati</em>
<em>begitu juga aku</em>
<em>meski aku hanya mengisi sudut hatinya</em>
<em>meski hanya ada di palung hati paling dalam</em>
<em>aku pun ingin tetap hidup dalam dirinya</em>
si mungil bernama keyakinan itu lalu berpaling
berpulang ke sudutnya
membiarkan akal sehat merenungkan tuturnya
<em>tenang saja, aku lebih senang diam</em>
<em>tak perlu kau cemaskan hadirku</em>
<em>aku tak akan merusuhkan yang ada</em>
rindu menyeletuk seiring denyut nadi
gelisah membebaskan dekapannya
udara berebut masuk dalam tubuhku
mengaliri tiap inci kulit, nadi dan arteri
di pesinggahannya, keyakinan mengumbar senyum
kelegaannya tersulut hingga ke wajahku
dan akal sehat mulai ringan melangkah
senyumku mekar sembari menatap wajahmu dalam bingkai
0 komentar:
Posting Komentar