Bergeming dalam keramaian
Gendang telingaku seolah telah kedap suara
Menangkis setiap tebaran-tebaran asa yang mereka janjikan
Aku tak mau dengar apapun, meski itu manis
Aku sudah terlalu lelah
Toh manis itu akhirnya hanya menjadi getir yang tiada tara
Membikin lidahku mati rasa
Kelu, malu pada Tuhanku
Apa harus kukata ketika kesatuan huruf tak bisa kueja
Tak bisa ku maknai dan membuatku terjebak ke dalam kubangan dosa di masa lalu
Hanya karena manis itu, manis yang semu itu
Yang membuatku terbang melayang menembusi langit tingkat tujuh
Dan lalu menghempaskanku hingga palung lautan
Oh Tuhan, haruskah aku mencabik daging-daging berdosa ini?
Daging-daging yang bernaung di dalam kemunafikan dunia fana ini
Yang melekati tulang putih memudar karena noda dosa
Sungguh, aku kehilangan arah tujuanku
Aku linglung, tak bisa lagi memaknai hakikatku bernapas di dunia ini
Pantaskah aku menemu jalan pulang, seperti janji manis yang tertulis dalam kitab-Mu?
Merangkai asa sekali lagi dan meraih derajat tinggi di depan mata-Mu
Menapaki jalan putih dan meninggalkan kubangan kelam
Kuyakini dalam hati, manis-Mu tak sama dengan manis mereka
Manis-Mu bukan manis semu yang hanya sekejap
Manis-Mu kan membawaku ke dalam keabadian akhirat
Izinkanku mengecap setetes manis itu, Ya Rabb...
ps : unpredictable poem collaboration with irmencretoz.. :D
0 komentar:
Posting Komentar